Tak Berkategori

The Forbidden

A Novel by CHACHARAMEL

The Forbidden | Bagian 1

Mereka bilang aku dan Marcell adalah pasangan yang sangat serasi. Saling melengkapi dan mengerti satu sama lain. Aku yang menurut Marcell penuh perhatian, adalah tipikal cewek yang diinginkannya. Begitupun dengan aku yang menginginkan cowok dewasa, seperti yang ada di diri Marcell.

Satu tahun menjalin hubungan sebagai teman dekat, membuatku merasakan letupan-letupan kecil yang semakin hari semakin kuat. Apalagi perlakuannya yang selembut kapas, hampir membuatku sulit untuk bernapas. Dia, menjadi sosok yang begitu kukagumi. Bukan hanya kagum, tapi sepertinya naluri ini sudah sampai tahap ingin memiliki.

Namun, aku selalu berusaha menekan semuanya. Aku takut Marcell tidak merasakan hal yang sama. Aku cemas hanya aku saja yang mencinta, sedangkan dia tidak.

Hingga suatu malam, rasa takut dan cemas itu seolah terjawab dengan sendirinya. Berawal dari Marcell yang mengajakku makan malam berdua hingga berujung pada pernyataan cinta.

Bahagia? Tentu saja. Terharu? Sudah pasti iya. Dia menyematkan sebuah cincin di jari tengah lengan kiriku. Dia bilang itu adalah pertanda jika aku miliknya begitupun sebaliknya. Kusematkan cincin yang sama di tempat yang sama dengan makna yang juga sama.

Aku memeluknya erat, seerat yang aku bisa. Sampai dia hampir kehabisan napas. Kukatakan padanya betapa bahagianya aku malam itu dan dia pun mengatakan hal yang sama. Bertambahlah rasa bahagiaku dan melupakan segalanya.

Kini, hubunganku dengan Marcell sudah berjalan enam bulan dan semuanya masih baik-baik saja. Aku harap akan selalu seperti ini seterusnya. Semoga.

“Yang katanya abis rayain ulang tahun, kok nggak ada jejak-jejaknya banget ya,” sindir Yudi yang baru saja datang. Saat ini kami memang sedang berada di kantin kampus.

Aku dan Marcell mengulum senyum sebelum akhirnya lelaki di sampingku membuka suara. “Nggak perlu diumbar di sosmed lah, cukup dirayain berdua,” katanya sambil merangkul pundakku.

“Iya gak, sayang?” tanyanya melirik ke arahku.

“Iya. Biar nggak direcokin sama lo, Satya, dan yang lain.”

“Wah wahh … Ini nih. Temen kampret tuh begini.” Yudi menggerak-gerakan telunjuknya di udara. Aku dan Marcell hanya tertawa menanggapinya.

“Ngerti deh, kalian emang butuh waktu berdua. Selama ini kan kita selalu recokin moment kalian. Selamat ulang tahun ya Vell. Panjang umur, sehat selalu, wish you all the best pokoknya.”

Aku menjabat tangannya sesaat. “Thank you ya, Yud.”

Yudi mengangguk. “Tapi tetep ada traktiran kan ya?”

“Ada. Pesen deh semau lo. Bebas. Gue yang bayar,” kataku membuat semangat 45 di matanya terlihat jelas.

“Eh Yud Satya kemana? Tumben nggak bareng?” tanyaku yang baru menyadari kalau Satya tidak bersama Yudi seperti biasa.

“Oh si Satya tadi nyelonong ke kelasnya Dea. Biasa … melancarkan jurus PDKT yang nggak kelar-kelar.” Aku mengangguk mengerti.

Dari jalan masuk kantin, aku melihat Nauly berjalan ke arah sebuah meja sendirian. Apakah ini waktu yang tepat untuk kami bicara? Sejak aku dan Marcell jadian, hubunganku dengan Nauly menjadi sangat renggang. Dia menjadi satu-satunya orang yang tidak menyetujui hubunganku dengan Marcell dan aku mengerti. Wajar jika dia tidak suka. Tapi dia juga harus mengerti situasinya. Aku tidak seperti yang dia kira.

“Cell?” panggilku pelan. Cowok itu menoleh, “Kenapa sayang?”

“Aku mau ngomong sama Nauly dulu nggak papa, ya?”

“Aku ikut.”

“Jangan. Biar aku aja, ya?” kugenggam tangannya erat. “Kamu percaya sama aku, kan?”

Marcell mengangguk. Aku bangkit dari posisiku kemudian berjalan ke arah meja Nauly. Semoga kali ini dia mau mendengarkanku.

“Hai Na,” sapaku basa basi. Melihatku dudik tepat di hadapannya, ia langsung melayangkan tatapan benci dan sinis. Nauly bangkit dari duduknya berniat untuk pergi. Dengan gerakan cepat, sebisa mungkin aku menahannya.

“Tolong Na, sekali aja. Gue pengen ngomong sama lo. Kita harus bicara dan selesaikan semua ini.”

Ia memutar bola matanya dan menatapku tajam. “Apalagi yang harus dibicarain? Semuanya udah jelas, kan?”

“Na … gue nggak seperti yang lo pikir.” aku mencoba meyakinkannya.

Tiba-tiba dia menarikku dan membawanya pergi menjauh dari kantin. Jalan melewati lorong hingga sampai di taman belakang kampus yang sepi kemudian melepaskan genggamannya kasar.

“Lo mau bela diri lo kayak gimana lagi? Hah?”

“Nauly, please … ngertiin keadaan gue. Kalau lo ada di posisi gue, lo juga pasti nggak punya pilihan.”

“Emang lo pikir cowok di dunia ini cuman Marcell? Nggak ada yang lain sampe lo harus jadian sama dia? Hah?”

“Gue tahu cowok di dunia ini banyak, Na. Tapi gue sayang sama dia. Kita saling mencintai. Dan bukannya mencintai itu hak semua manusia?”

“Dengan cara mengkhianati?”

“Na ….”

“Vel ….”

Aku memjamkan mata, berusaha menahan air mata itu supaya tidak jatuh. Aku tahu ini salah, tapi sungguh aku mencintai Marcell dan lelaki itu pun begitu. Kami hanya ingin merajut bahagia bersama. Sebegitu tidak boleh, kah?

“Inget Vell, pengkhianat dan penggoda pada akhirnya akan hancur bersama!” katanya lalu pergi begitu saja meninggalkanku.

Aku menyenderkan tubuhku pada dinding. Menutup mata lekat-lekat. Aku tahu itu salah. Tapi sungguh, tidak ada sedikit pun niat dalam diriku untuk merebut Marcell dari siapapun. Tidak ada niat sedikitpun untukku mengkhianati pihak manapun.

Yah … inilah kisahku yang sebenarnya. Hubunganku dan Marcell yang terlihat selalu baik-baik saja dan begitu serasi seperti yang dikatakan oleh banyak orang, nyatanya tidak begitu. Mereka tidak tahu apa yang kami hadapi. Mereka tidak tahu apa sebenarnya terjadi.

Aku terperanjat dan sontak membuka mata saat sebuah tangan menarikku ke dalam sebuah pelukan. Kepalaku mendarat tepat di dada bidangnya. Lelaki itu memelukku erat. Bau maskulin yang khas dan sangat kukenal membuat senyumku mengembang. Kehangatan yang tercipta dari pelukannya, merambat hingga ke dalam hatiku.

Tuhan, bagaimana aku bisa pergi dari lelaki ini jika perlakuannya selalu membuatku merasa nyaman dan begitu dicintai.

“Kamu nggak salah. Aku yang salah. Tapi kumohon berjanjilah untuk tidak pergi dariku, sayang,” bisiknya pelan.

“Aku takut ….” lirihku.

“Semua akan baik-baik saja. Aku mencintaimu.”

“Aku juga Marcell ….”

***

*To be continue …

Iklan
Tak Berkategori

PROMOTE

Attention : Jangan salahkan author jika setelah membaca prolog kalian akan ketagihan dan terus menerus pengen baca.

[Private Acak; Follow author dulu sebelum baca. Selamat baper!]

***

KRISANAYA PRASASTY, cewek mungil yang ketiban sial karena terus menerus berurusan dengan Davi. Cowok yang di hari pertamanya menjadi murid baru sudah ia cap sebagai kakak kelas paling menyebalkan.

DAVINO MUHAMMAD FAISHAL, Ketua Ambalan yang kepalang cakep. Sangat suka Pramuka dan pembenci awan mendung.

Saat Masa Orientasi Pramuka, Davi tidak sengaja menenukan sebuah foto yang dijatuhkan oleh Naya, Adik kelasnya.

Davi menjadikan itu sebagai kartu AS-nya dan meminta Naya agar menuruti semua kemauannya selama satu bulan penuh jika tidak ingin foto tersebut tersebar ke seluruh penjuru sekolah SMA PERTIWI.

Tidak ada pilihan lain, Naya akhirnya menyetujui hal itu. Namun, ia tidak pernah menyangka akan separah itu kejadiannya. Menurut ibunya, itu adalah jimat keberuntungan. Tapi bukannya beruntung, ia malah harus berhadapan dengan Davi, si cowok tergila sejagat raya.

Tapi, itu hanyalah sekedar basa basi semata. Sebenarnya, Davi mempunyai alasan lain. Alasan kenapa dirinya memilih Naya. Alasan yang juga pada akhirnya menghancurkan Naya. Sebuah rahasia terperih untuk Naya.

CHACHARAMEL 2017

Review :

“Cerita Davino keren! Suka deh! Apalagi overprotektifnya. Suka sama gayanya Davino pokoknya!” -Beta Rizki [Penulis buku Preman Sekolah Jatuh Cinta]

“Bep, Cerita Davinonya keren! Bikin nggak mau berhenti baca. Suka sama konfliknya!” – Aniswa Hasanah [Penulis buku Yaa Jaujiy]

Saya pikir Anda akan menyukai cerita ini: ” D A V I N O [COMPLETED] oleh CHACHARAMEL di Wattpad https://my.w.tt/aKxS2nePYL

CoretanPena

TENTANG KEHIDUPAN

​CoretanPena by : DANDELIONRAN
Rindu seperti apa yang kau tunjukan, jika kenyataannya kaulah penyebab kehancuran itu. penyesalan seperti apa yang ingin kau utaran, jika pada akhirnya kau pun tak kuasa mengembalikan semua seperti sedia kala. 

Lebih baik jika sebaiknya menyudahi kesedihan yang tak mungkin tertebus. menggiring jiwa untuk menjalani hari-hari kedepan. Tidak apa belum ada tujuan. Tidak masalah belum menemukan titik terang. Karena terkadang, kita harus salah dulu sebelum benar. 

Jangan menengok kebelakang lalu terpuruk dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan. Jangan merasa jika semua usaha kini berada diambang kehancuran. 

Ketidakberdayaan dalam melakukan, harusnya jadi acuan untuk lebih meyakinkan tekad. Semua butuh proses. 
Dijatuh bangunkan oleh keadaan, bukan sesuatu yang patut di takutkan. Karena itu jelas ujian. 
   

Yang tak tahan, bukan berarti pecundang. Yang menyerah, tidak selalu kalah. 
Ada masanya kita memang harus berhenti. Bukan untuk mengakhiri, tapi kita memang butuh waktu untuk memperbaiki diri. 

Tapi roda kehidupan tetap berjalan. Stuck di tempat tidak akan merubah segalanya. Mencoba kembali pada masalalu pun tak akan bisa. tidak ada cara lain selain menjalaninya. Meski harus melakukan beribu cara untuk tetap bisa bertahan, itu lebih baik daripada diam dalam kematian seperti orang bodoh. 

Puisi

HUJAN DAN KENANGAN

Sebuah Puisi karya : DANDELIONRAN

Rintik hujan di musim yang sama

Jejak-jejak kenangan, kembali menyapa

Menoreh luka, menyesakkan dada

Memaksaku kembali terpuruk dalam duka


Seolah elegi tak pernah berhenti

Menghantamku pada titik paling inti

Pada jiwa yang kini tak lagi memiliki

Kepingan hati yang pernah saling berbagi


Aku benci menatap hujan

Mendengar suaranya yang kian memilukan

Nuansa sunyi begitu mencekam

Menghadirkan emosi yang tak teredam


Kehilangan yang masih terasa

Kesedihan yang tertuju pada wajah yang sama

Semakin kuat dan merajalela, menusuk jiwa 

Menghadirkan luka lama


Kisah yang telah usai

Masa-masa yang telah selesai

Nyatanya masih menimbulkan badai

Cerpen

RETROUVAILLES

Sebuah cerpen by : DANDELIONRAN

Liona menatap lekat pria di hadapannya. Rindu? Pasti. Setelah sekian lama berpisah, ia akhirnya bisa melihat Gifari lagi. Itu sebuah kebahagiaan tesendiri untuknya. Tapi, ada yang mengganjal di hatinya akhir-akhir ini.

“Kita ini bukan siapa-siapa kan, ya? Tapi kok sakit liat kamu sama yang lain,” ucap Liona to the point. Pertanyaan itu lolos begitu aja dari mulutnya.

“Itu tandanya kamu suka sama aku.” 

“Kok gitu?” 

“Terus apa namanya?” Liona menggeleng. Dia juga enggak ngerti sama apa yang dia rasain. Entah sejak kapan ia merasa risi tiap kali melihat Gifari bersama Naomi yang notabenenya adalah sepasang kekasih. Padahal dulu nggak begitu ceritanya. 

“Kamu apa kabar Gif?” 

“Aku baik.” 

Liona hanya beroh ria. Setelah lulus kuliah 2 tahun lalu, ia memang nggak tahu lagi bagaimana kabar Gifari dan perkembangan hubungan pria itu dengan Naomi. Baru beberapa bulan belakangan ini dirinya kembali di pertemukan dengan keduanya karena sebuah pekerjaan. 

Tapi, baru kali ini ia diberi kesempatan satu project dengan Gifari. Biasanya mereka hanya saling tatap satu sama lain seperti orang asing yang gak saling kenal sebelumnya. Dua tahun berpisah dan tanpa adanya komunikasi nyatanya menjadi alasan kecanggungan diantara keduanya.
Berbeda dengan Naomi yang lebih respect terhadapnya. 

“Kamu sendiri apa kabar?” tanya Gifari. 

“Seperti biasa. Selalu baik.” Liona tersenyum simpul.

Gifari mengangguk. Gadis mungil dan manis di depannya masih tidak berubah. Masih sama seperti Liona yang ia kenal semasa kuliah. Gadis yang masih setia mengisi hatinya hingga saat ini. 
“Hubungan kamu sendiri … 
gimana?” 

“Maksudnya?”

“Aku denger kamu deket sama kepala HRD.” 

“Kita nggak ada hubungan apa-apa. Cuman temen,” ungkap Liona jujur. 

Entah kenapa ada kelegaan tersendiri di hati Gifari saat Liona mengatakan hal itu.

“Syukur deh. Aku lega dengernya.”

Liona mengerutkan kening. “Emangnya kenapa?” 

“Ya enggak rela aja gitu kalau kamu sama yang lain.” 

“Sejak kapan kamu ngerasa kayak gitu? Kok aku baru tahu?” 

“Selama ini siapa sih yang bikin terjebak friendzone?” Gifari balik bertanya. 

Liona mengalihkan pandanganya ke arah jalanan sambil memegang erat gelas kopinya. 

“Aku sih. Lagian kalau bilang aku suka sama kamu sekarang … juga percuma, kan? Udah telat.” 

Gifari mengangguk. “Andai aja kamu akuin itu lebih cepet, Li.” 

“Kalau aku baru sadarnya sekarang, gimana?” Liona mengalihkan pandangannya menatap Gifari. 

“Itu namanya cinta datang terlambat.” 

Liona mengangguk.

“Kalau aku bilang nggak pernah cinta sama Naomi, kamu percaya enggak?” 

Liona menggeleng. 

“Kenapa?” 

“Ya karena itu enggak mungkin. Buat apa jadian kalau nggak saling sayang? Buang-buang waktu aja.” 

“Tepat!” 

“Apanya?” 

“Kamu. Kamu sendiri betah ngejomblo sampe sekarang. Buang-buang waktu aja. Padahal, yang mau sama kamu banyak.” 
Liona mengernyit tidak mengerti.

 
“Karena kita punya alasan yang sama. Aku suka sama oranglain. Kamu juga begitu, kan?” 

“Maksud kamu?” 

Gifari menatap lekat Liona. “Lupain itu. Gini, aku sama Naomi juga kan kamu yang minta. Lupa? Kalau bukan karena kamu, aku juga enggak mau.” 

Iya, Liona ingat betul hal itu. Dulu, memang dia yang meminta Gifari untuk mendekati Naomi. Naomi adalah teman Liona saat PPL dulu. Gadis itu sudah menyukai Gifari saat mereka pertamakali bertemu. 

“Maaf.” hanya empat huruf itu yang keluar dari mulut Liona.
“Dan kalau aku bilang cuman kamu yang aku cinta, bakal percaya enggak?” 

Lagi, Liona menggeleng. Ia tahu Gifari menyayanginya, tapi ya … hanya seperti seorang kakak kepada adiknya. 

Gifari tersenyum. “Padahal …dulu udah sering bilang kalau aku sayang sama kamu. Bilang suka juga berkali-kali.” 

“Aku pikir kamu bercanda. Aku kira sayangnya kamu karena udah anggap aku kayak adik sendiri.” 

“Katanya cewek peka. Tapi kamu kok nggak?”

“Udah, ah. Kok kita malah bahas yang nggak-enggak, sih?”

“Yang enggak-enggak itu yang gimana, Li?” 

“Ya gitu ….” 

“Ya gitu gimana?” 

“Yang enggak kesampean,” ungkap Liona akhirnya. 



“Maksud kamu … kita?” 

“Nggak. Bukan kita, kok. Jadi, apa yang mau kita bahas? Katanya kamu mau bahas kerjaan.” 

“Salah sendiri kamu yang ngawalin.”

“Kan kamu tahu aku orangnya enggak bisa bohong.” 

“Jadi, sejak kapan?” tanya Gifari menyelidik. 

“Apanya?” 

“Perasaan itu ngusik hati sama pikiran kamu?”

“Emm … nggak tahu. Kalau perasaan yang kamu maksud itu sebuah kehilangan, udah pasti sejak lulus kuliah aku kehilangan kamu. Apalagi sejak saat itu kita malah lost contact karena kebeneran hp aku ilang dan kamu pindah ke jogja.” 

“Kalau masalah perasaan yang lainnya, aku juga enggak tahu. Tapi, sejak kalian berdua muncul di kantor pusat, ada rasa sakit yang muncul gitu aja. Tanpa di undang dan tanpa di rencanakan.” sambungnya jujur. Enggak akan ada gunanya bohong di depan Gifari.  Dulu ia memang sempat menykai Gifari, tapi perasaan itu langsung di tepisnya dan dilupakan begitu saja. 

“Aku udah rasain itu,” ungkap Gifari. 

“Hah?” 

“Mungkin orang lain enggak bakal ada yang paham. Tapi, siapa yang ngenal kamu lebih baik selain aku?” 

Liona tersenyum. Pria di depannya sama sekali nggak berubah. 

“Udah, ya. Jangan di bahas lagi. Anggap aja cuman deja vu.” 

“Kamu percaya enggak kalau Naomi udah tunangan?” 

Liona mengangguk. “Kalian cocok.” 

“Aku bilang kan Naomi. Bukan aku sama Naomi.” 

“Hah?” 

“Naomi udah tunangan. Sama orang lain.” 

“Kok?” Pertanyaan singkat tapi penuh dengan rasa keingintahuan yang besar.

“Katanya enggak mau bahas ….” 

“Ya itukan aku sama kamu. Bukan kamu sama Naomi.” 

“Emang aku sama kamu ada apa?” 

“Gi ….” 

Gifari tersenyum. “Kita enggak pernah bener-bener pacaran. Dijalani gitu aja. Naomi juga tahu aku nggak pernah sayang sama dia. Dia bilang aku boleh pergi kalau suka sama gadis lain. Waktu itu aku enggak bisa bilang kalau suka sama kamu. Karena kamu kayaknya enggak punya perasaan apa-apa sama aku.” 

“Jadi kamu bertahan sama dia?” 
“Kita pacaran rasa temenan, sih. Cuman status aja nyatanya ya cuman temenan.” 

“Kok bisa?” 

“Aku juga enggak tahu. Sampe akhirnya dia bilang mau buka hati buat orang lain.” 

“Terus kamu izinin?” 

Gifari mengangguk. “Setiap orang pantas bahagia, kan?” 

“Iya.” 

“Terus? Kamu kapan bahagianya?” tanya Gifari.

“Eh?” 

“Kalau kamu nikah sama aku, bahagia enggak?” 

“Ha?” 

Gifari mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Inilah alasan sebenarnya ia mengajak gadis itu untuk bertemu di kafe. Sama sekali bukan masalah pekerjaan. 

Will you marry me?” sebuah lamaran yang sama sekali enggak pernah Liona sangka. 

“Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku nggak mau sampe keduluan sama kepala HRD itu.”

Liona tersenyum lalu mengangguk pertanda lamaran pria itu diterimanya. 
Kadang kejujuran itu emang konyol. Kadang perasaan yang datangnya tiba-tiba juga bikin Liona makin merasa konyol. Tapi, enggak ada takdir yang konyol termasuk permuannya kembali dengan Gifari. Itu bukan sebuah kebetulan melainkan takdir. Liona percaya bahwa takdir selalu indah bagaimanapun bentuknya.

CoretanPena

Hujan

Hujan … 

Mengingatkanku pada kisah yang tak mampu kulupakan. Pada masa, di mana aku berpikir bahwa semua akan berjalan baik-baik saja seperti sebelumnya.

Ingat? Saat aku memutuskan menerimamu kembali malam itu? Apa kau paham arti dari senyumanku? Apa kau lihat binar bahagia yang terpancar dari kedua bola mataku?

Ingat? Saat aku dengan mudah memutuskan untuk memulai kisah kita lagi dari awal? Betapa diriku percaya bahwa kau masih orang yang sama. Kau masih cintaku yang berharga. 
Tapi ternyata, spekulasiku tentangmu salah. Kau benar-benar berbeda dan telah berubah.

Senyum yang kau berikan seolah-olah bukan lagi miliku. Perlakuan hangatmu mulai terlihat kaku. Pelukanmu terasa dingin dan menusuk hatikku. 

Resah yang kurasa, menimbulkan banyak tanda tanya. Memaksaku berpikir yang tidak-tidak. Gelisahku semakin tak terkendali, saat kabarmu semakin jarang kudapati. 
Hey … Kau benar-benar menjadi manusia yang tak kukenali. Kemana dirimu yang biasa? Yang penuh cinta, canda dan tawa? 
Hingga akhirnya … aku mengerti dan paham. Ketika hari itu, kau dengan cepat melepaskan genggaman tanganmu dan berlari mengejar wanita itu.  Tanpa ragu, kau memeluknya erat dibawah derasnya hujan.

Kau mengatakan bahwa kau mencintainya  begitu dalam. Bahwa seluruh perasaanmu telah teralihkan. Bahwa dia adalah satu-satunya alasan.


Lalu, apa arti kembalimu malam itu? Apa arti dari janji yang kau ikrarkan kala itu? Apakah perpisahan kita sebelumnya, berhasil menghapus seluruh perasaan cintamu padaku? Apakah semudah itu kau membuangku?

Kau menatapnya lekat. Meyakinkannya sedemikian kuat. Mengatakan bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan tidak ada hal terjadi yang istimewa. Kau memeluknya kembali seakan memberitahuku bahwa dialah segalanya. 

Mengapa kau tega menyakitiku dengan begitu kejam dan tanpa perasaan?  Mengapa malam itu kau berusaha kembali jika telah memiliki pengganti? 
Kau patahkan rasaku yang luar biasa. Kau hancurkan cinta yang selama ini selalu tertuju pada orang yang sama. Kau melukaiku seutuhnya, hingga titik tak berdaya. Lewat hujan aku tersenyum menatapmu. Menatap kepergianmu yang kian jauh bersama wanitamu. Kau memilihnya, dan aku hanya bisa tertawa.

Dan kini, lewat hujan pula aku masih mengenangmu. Kau tahu? Rasa sakit ini tak kunjung reda. Padahal, ini sudah hujan kesekian kalinya yang turun setelah peristiwa itu. Hujan yang kesekian kalinya yang turun setelah kau memutuskan pergi bersama wanitamu. Dan aku masih saja merasa pilu … 

CoretanPena

Kisah Yang Tak Pernah Ada

“Kisah Yang Tak Pernah Ada”

BY : DANDELIONRAN

Kamu itu seperti bintang, terlihat indah namun sampai kapanpun takkan pernah terjamah.

Kamu, manusia yang selalu ada, pada akhirnya menjadi orang yang pergi di list paling pertama.

Jika bisa, aku ingin menjabarkannya. Tentang kamu yang begitu berbeda. Tentang gerak-gerikmu yang selalu menimbulkan tanya. Aku ingin menuliskannya, tentang kisah kita yang tak pernah ada dan kepergianmu yang menimbulkan luka.

Tapi, aku bingung harus memulainya darimana. Dari perkenalan kita yang tidak di sengaja? Atau dari kata “Hai” yang kau ucapkan di kursi tunggu waktu itu?

Satu tahun berlalu begitu saja. Hadirnya kamu, sedikit banyak memberikan warna yang berbeda dalam panggung drama hidupku. Ada selipan tawa, senyum bahagia, kesal tiada tara, dan masih banyak rasa yang lainnya.

Sampai pada akhirnya, aku berada di bab yang paling tidak kumengerti.

Malam itu, Aku tidak mengerti ketika kita membahas tentang gadis yang kamu suka. Bukannya aku suudzan, aku hanya merasa bahwa gadis itu seperti diriku. Bagaimana tidak? Kamu bercerita bahwa gadis itu selalu datang 5 menit sebelum mata kuliah pertama di mulai. Dan aku sudah melakukan hal itu sejak kali pertama menginjakan kaki di kampus.

Lalu, kamu mengatakan bahwa gadis itu berbeda. Dia tidak suka dengan hal-hal yang rumit dan selalu dibuat gampang oleh versi dan caranya sendiri. Itu adalah kebiasaanku yang sudah sangat kau hafal mengingat aku sering mengatakan hal itu di depanmu.

Dan yang terakhir, kau mengatakan jika gadis itu satu kelas denganmu. Jadi, masih bolehkah aku berpikir bahwa dia adalah diriku?

Tidak. Aku bercanda. Tenang saja, karena aku tahu dia bukan aku. Right?

Aku hanya merasa terusik dengan semua keterangan itu. Tidak bermaksud membuat kesimpulan sendiri.

Aku masih ingat beberapa tingkah lakumu yang menurutku aneh. Bagaimana tidak? Kamu mengirimiku pesan singkat hanya untuk meminjam pulpen, tipe-x, pinsil, penghapus, padahal jarak antara tempat dudukmu denganku hanya terpaut oleh satu orang saja. Dan yang lebih anehnya lagi adalah … setiap barang yang kamu pinjam tidak pernah kau pakai. Jadi, untuk apa?

Atau lagi … kau sering mengirimiku pesan hanya sekedar mengatakan “jangan terlalu fokus liatin dosennya.”

Hei dude, apa kau memperhatikanku selama mata kuliah berlangsung? Aku tersenyum kala itu karena oh ayolah dirinya tidak mungkin mengatakan hal tersebut jika ucapanku tidak benar, bukan?

Dan yang terakhir yang paling ku ingat adalah … ketika aku berjalan melewatimu lalu kemudian dengan seenaknya kamu menarik tasku dari belakang, membuat kita berjalan berdampingan. Bukan sekali, tapi berkali-kali hingga semua teman beranggapan kita ini pacaran. Aku tahu, kamu tidak pernah melakukan hal itu kepada teman yang lain. Jadi, apa artinya itu? Dan setelah semua itu, aku merasa masih berada di bab yang tidak kumengerti.

Hingga pada akhirnya aku smpai di bab penutup. Kamu dengan bahagianya mengatakan bahwa “LDR itu seru juga ya. Nahan rasa kangen. Ah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya.

Aku tersenyum dan memberi opini persetujuan. Ternyata kamu sudah memiliki kekasih yang tak pernah ku tahu tepatnya kapan. Mungkin baru-baru ini. Karena yang ku tahu kamu sempat single. Itupun karena kamu yang mengatakannya sendiri.

Tapi, rasanya seperti ada yang salah. Aku tidak suka. Tidak suka kamu punya pacar? Tidak suka kamu menyukai orang lain? Ku akui keduanya! Tapi aku sendiri tidak pernah berharap kamu memacari dan menyukaiku. Sungguh, tidak pernah! Aneh, bukan?

Tapi wait, kamu bilang LDR, kan? Jadi, maksud dari semua perkatanmu malam itu apa? Apa kamu hanya sedang bermain-main waktu itu agar membuatku menerka? Aku masih ingat betul saat kamu mengatakan bahwa gadis yang kau sukai adalah teman sekelas. Dan LDR tidak mungkin sekelas, bukan?

Lalu apa?

Tapi aku tidak ingin terlalu memikirnya. Biarlah itu menjadi urusan dan rahasiamu. Aku hanya teman biasa, jangan lupakan itu.

Kamu menjauh dan aku mulai merasa kehilangan. Pesan singkatku pun hanya kau balas dengan kata-kata pendek. Aku jadi merasa kesal. Tapi cukup tahu diri mengenai statusku yang bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa.

Dan aku baru sadar bahwa kita tidak pernah memulai apapun, tapi mengapa ketika kamu pergi, aku malah menangisinya? Seolah sebelumnya kita pernah membuat cerita bersama.
Dan saat kamu kembali aku merasa begitu senang, seperti bahagianya seseorang yang telah lama rindukan kekasihnya. Padahal, kamu kembali bukan untuk memulai atau melanjutkan. Hanya sebatas seseorang yang kembali atas dasar pertemanan.

Kamu tidak pernah mengatakan suka atau yang lainnya. Kamu selalu menganggapku teman biasa. Bukannya aku kecewa, tapi tidak pernah ada teman biasa yang possesivenya di atas rata-rata. Tidak pernah ada teman biasa yang khawatir melebihi orang jatuh cinta. Dan tidak pernah ada teman biasa yang marah lama-lama hanya karena dekat dengan teman lelakinya. Apalagi tidak ada alasan yang jelas dibaliknya.

Kita sama-sama tahu apa definisi teman itu. Dan teman biasa kutahu tidak akan melakukan hal-hal yang berlebihan itu.

Jadi … apa di sini hanya aku yang merasakannya? Jatuh cinta? Apa kamu tidak?

Dan maaf jika aku lancang. Jatuh cinta padamu yang baru saja memiliki cinta yang baru.

Dariku, untukmu yang pernah ada.