CoretanPena

TENTANG KEHIDUPAN

​CoretanPena by : DANDELIONRAN
Rindu seperti apa yang kau tunjukan, jika kenyataannya kaulah penyebab kehancuran itu. penyesalan seperti apa yang ingin kau utaran, jika pada akhirnya kau pun tak kuasa mengembalikan semua seperti sedia kala. 

Lebih baik jika sebaiknya menyudahi kesedihan yang tak mungkin tertebus. menggiring jiwa untuk menjalani hari-hari kedepan. Tidak apa belum ada tujuan. Tidak masalah belum menemukan titik terang. Karena terkadang, kita harus salah dulu sebelum benar. 

Jangan menengok kebelakang lalu terpuruk dalam rasa bersalah yang tak berkesudahan. Jangan merasa jika semua usaha kini berada diambang kehancuran. 

Ketidakberdayaan dalam melakukan, harusnya jadi acuan untuk lebih meyakinkan tekad. Semua butuh proses. 
Dijatuh bangunkan oleh keadaan, bukan sesuatu yang patut di takutkan. Karena itu jelas ujian. 
   

Yang tak tahan, bukan berarti pecundang. Yang menyerah, tidak selalu kalah. 
Ada masanya kita memang harus berhenti. Bukan untuk mengakhiri, tapi kita memang butuh waktu untuk memperbaiki diri. 

Tapi roda kehidupan tetap berjalan. Stuck di tempat tidak akan merubah segalanya. Mencoba kembali pada masalalu pun tak akan bisa. tidak ada cara lain selain menjalaninya. Meski harus melakukan beribu cara untuk tetap bisa bertahan, itu lebih baik daripada diam dalam kematian seperti orang bodoh. 

Iklan
Puisi

HUJAN DAN KENANGAN

Sebuah Puisi karya : DANDELIONRAN

Rintik hujan di musim yang sama

Jejak-jejak kenangan, kembali menyapa

Menoreh luka, menyesakkan dada

Memaksaku kembali terpuruk dalam duka


Seolah elegi tak pernah berhenti

Menghantamku pada titik paling inti

Pada jiwa yang kini tak lagi memiliki

Kepingan hati yang pernah saling berbagi


Aku benci menatap hujan

Mendengar suaranya yang kian memilukan

Nuansa sunyi begitu mencekam

Menghadirkan emosi yang tak teredam


Kehilangan yang masih terasa

Kesedihan yang tertuju pada wajah yang sama

Semakin kuat dan merajalela, menusuk jiwa 

Menghadirkan luka lama


Kisah yang telah usai

Masa-masa yang telah selesai

Nyatanya masih menimbulkan badai

Cerpen

RETROUVAILLES

Sebuah cerpen by : DANDELIONRAN

Liona menatap lekat pria di hadapannya. Rindu? Pasti. Setelah sekian lama berpisah, ia akhirnya bisa melihat Gifari lagi. Itu sebuah kebahagiaan tesendiri untuknya. Tapi, ada yang mengganjal di hatinya akhir-akhir ini.

“Kita ini bukan siapa-siapa kan, ya? Tapi kok sakit liat kamu sama yang lain,” ucap Liona to the point. Pertanyaan itu lolos begitu aja dari mulutnya.

“Itu tandanya kamu suka sama aku.” 

“Kok gitu?” 

“Terus apa namanya?” Liona menggeleng. Dia juga enggak ngerti sama apa yang dia rasain. Entah sejak kapan ia merasa risi tiap kali melihat Gifari bersama Naomi yang notabenenya adalah sepasang kekasih. Padahal dulu nggak begitu ceritanya. 

“Kamu apa kabar Gif?” 

“Aku baik.” 

Liona hanya beroh ria. Setelah lulus kuliah 2 tahun lalu, ia memang nggak tahu lagi bagaimana kabar Gifari dan perkembangan hubungan pria itu dengan Naomi. Baru beberapa bulan belakangan ini dirinya kembali di pertemukan dengan keduanya karena sebuah pekerjaan. 

Tapi, baru kali ini ia diberi kesempatan satu project dengan Gifari. Biasanya mereka hanya saling tatap satu sama lain seperti orang asing yang gak saling kenal sebelumnya. Dua tahun berpisah dan tanpa adanya komunikasi nyatanya menjadi alasan kecanggungan diantara keduanya.
Berbeda dengan Naomi yang lebih respect terhadapnya. 

“Kamu sendiri apa kabar?” tanya Gifari. 

“Seperti biasa. Selalu baik.” Liona tersenyum simpul.

Gifari mengangguk. Gadis mungil dan manis di depannya masih tidak berubah. Masih sama seperti Liona yang ia kenal semasa kuliah. Gadis yang masih setia mengisi hatinya hingga saat ini. 
“Hubungan kamu sendiri … 
gimana?” 

“Maksudnya?”

“Aku denger kamu deket sama kepala HRD.” 

“Kita nggak ada hubungan apa-apa. Cuman temen,” ungkap Liona jujur. 

Entah kenapa ada kelegaan tersendiri di hati Gifari saat Liona mengatakan hal itu.

“Syukur deh. Aku lega dengernya.”

Liona mengerutkan kening. “Emangnya kenapa?” 

“Ya enggak rela aja gitu kalau kamu sama yang lain.” 

“Sejak kapan kamu ngerasa kayak gitu? Kok aku baru tahu?” 

“Selama ini siapa sih yang bikin terjebak friendzone?” Gifari balik bertanya. 

Liona mengalihkan pandanganya ke arah jalanan sambil memegang erat gelas kopinya. 

“Aku sih. Lagian kalau bilang aku suka sama kamu sekarang … juga percuma, kan? Udah telat.” 

Gifari mengangguk. “Andai aja kamu akuin itu lebih cepet, Li.” 

“Kalau aku baru sadarnya sekarang, gimana?” Liona mengalihkan pandangannya menatap Gifari. 

“Itu namanya cinta datang terlambat.” 

Liona mengangguk.

“Kalau aku bilang nggak pernah cinta sama Naomi, kamu percaya enggak?” 

Liona menggeleng. 

“Kenapa?” 

“Ya karena itu enggak mungkin. Buat apa jadian kalau nggak saling sayang? Buang-buang waktu aja.” 

“Tepat!” 

“Apanya?” 

“Kamu. Kamu sendiri betah ngejomblo sampe sekarang. Buang-buang waktu aja. Padahal, yang mau sama kamu banyak.” 
Liona mengernyit tidak mengerti.

 
“Karena kita punya alasan yang sama. Aku suka sama oranglain. Kamu juga begitu, kan?” 

“Maksud kamu?” 

Gifari menatap lekat Liona. “Lupain itu. Gini, aku sama Naomi juga kan kamu yang minta. Lupa? Kalau bukan karena kamu, aku juga enggak mau.” 

Iya, Liona ingat betul hal itu. Dulu, memang dia yang meminta Gifari untuk mendekati Naomi. Naomi adalah teman Liona saat PPL dulu. Gadis itu sudah menyukai Gifari saat mereka pertamakali bertemu. 

“Maaf.” hanya empat huruf itu yang keluar dari mulut Liona.
“Dan kalau aku bilang cuman kamu yang aku cinta, bakal percaya enggak?” 

Lagi, Liona menggeleng. Ia tahu Gifari menyayanginya, tapi ya … hanya seperti seorang kakak kepada adiknya. 

Gifari tersenyum. “Padahal …dulu udah sering bilang kalau aku sayang sama kamu. Bilang suka juga berkali-kali.” 

“Aku pikir kamu bercanda. Aku kira sayangnya kamu karena udah anggap aku kayak adik sendiri.” 

“Katanya cewek peka. Tapi kamu kok nggak?”

“Udah, ah. Kok kita malah bahas yang nggak-enggak, sih?”

“Yang enggak-enggak itu yang gimana, Li?” 

“Ya gitu ….” 

“Ya gitu gimana?” 

“Yang enggak kesampean,” ungkap Liona akhirnya. 



“Maksud kamu … kita?” 

“Nggak. Bukan kita, kok. Jadi, apa yang mau kita bahas? Katanya kamu mau bahas kerjaan.” 

“Salah sendiri kamu yang ngawalin.”

“Kan kamu tahu aku orangnya enggak bisa bohong.” 

“Jadi, sejak kapan?” tanya Gifari menyelidik. 

“Apanya?” 

“Perasaan itu ngusik hati sama pikiran kamu?”

“Emm … nggak tahu. Kalau perasaan yang kamu maksud itu sebuah kehilangan, udah pasti sejak lulus kuliah aku kehilangan kamu. Apalagi sejak saat itu kita malah lost contact karena kebeneran hp aku ilang dan kamu pindah ke jogja.” 

“Kalau masalah perasaan yang lainnya, aku juga enggak tahu. Tapi, sejak kalian berdua muncul di kantor pusat, ada rasa sakit yang muncul gitu aja. Tanpa di undang dan tanpa di rencanakan.” sambungnya jujur. Enggak akan ada gunanya bohong di depan Gifari.  Dulu ia memang sempat menykai Gifari, tapi perasaan itu langsung di tepisnya dan dilupakan begitu saja. 

“Aku udah rasain itu,” ungkap Gifari. 

“Hah?” 

“Mungkin orang lain enggak bakal ada yang paham. Tapi, siapa yang ngenal kamu lebih baik selain aku?” 

Liona tersenyum. Pria di depannya sama sekali nggak berubah. 

“Udah, ya. Jangan di bahas lagi. Anggap aja cuman deja vu.” 

“Kamu percaya enggak kalau Naomi udah tunangan?” 

Liona mengangguk. “Kalian cocok.” 

“Aku bilang kan Naomi. Bukan aku sama Naomi.” 

“Hah?” 

“Naomi udah tunangan. Sama orang lain.” 

“Kok?” Pertanyaan singkat tapi penuh dengan rasa keingintahuan yang besar.

“Katanya enggak mau bahas ….” 

“Ya itukan aku sama kamu. Bukan kamu sama Naomi.” 

“Emang aku sama kamu ada apa?” 

“Gi ….” 

Gifari tersenyum. “Kita enggak pernah bener-bener pacaran. Dijalani gitu aja. Naomi juga tahu aku nggak pernah sayang sama dia. Dia bilang aku boleh pergi kalau suka sama gadis lain. Waktu itu aku enggak bisa bilang kalau suka sama kamu. Karena kamu kayaknya enggak punya perasaan apa-apa sama aku.” 

“Jadi kamu bertahan sama dia?” 
“Kita pacaran rasa temenan, sih. Cuman status aja nyatanya ya cuman temenan.” 

“Kok bisa?” 

“Aku juga enggak tahu. Sampe akhirnya dia bilang mau buka hati buat orang lain.” 

“Terus kamu izinin?” 

Gifari mengangguk. “Setiap orang pantas bahagia, kan?” 

“Iya.” 

“Terus? Kamu kapan bahagianya?” tanya Gifari.

“Eh?” 

“Kalau kamu nikah sama aku, bahagia enggak?” 

“Ha?” 

Gifari mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Inilah alasan sebenarnya ia mengajak gadis itu untuk bertemu di kafe. Sama sekali bukan masalah pekerjaan. 

Will you marry me?” sebuah lamaran yang sama sekali enggak pernah Liona sangka. 

“Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku nggak mau sampe keduluan sama kepala HRD itu.”

Liona tersenyum lalu mengangguk pertanda lamaran pria itu diterimanya. 
Kadang kejujuran itu emang konyol. Kadang perasaan yang datangnya tiba-tiba juga bikin Liona makin merasa konyol. Tapi, enggak ada takdir yang konyol termasuk permuannya kembali dengan Gifari. Itu bukan sebuah kebetulan melainkan takdir. Liona percaya bahwa takdir selalu indah bagaimanapun bentuknya.

CoretanPena

Hujan

Hujan … 

Mengingatkanku pada kisah yang tak mampu kulupakan. Pada masa, di mana aku berpikir bahwa semua akan berjalan baik-baik saja seperti sebelumnya.

Ingat? Saat aku memutuskan menerimamu kembali malam itu? Apa kau paham arti dari senyumanku? Apa kau lihat binar bahagia yang terpancar dari kedua bola mataku?

Ingat? Saat aku dengan mudah memutuskan untuk memulai kisah kita lagi dari awal? Betapa diriku percaya bahwa kau masih orang yang sama. Kau masih cintaku yang berharga. 
Tapi ternyata, spekulasiku tentangmu salah. Kau benar-benar berbeda dan telah berubah.

Senyum yang kau berikan seolah-olah bukan lagi miliku. Perlakuan hangatmu mulai terlihat kaku. Pelukanmu terasa dingin dan menusuk hatikku. 

Resah yang kurasa, menimbulkan banyak tanda tanya. Memaksaku berpikir yang tidak-tidak. Gelisahku semakin tak terkendali, saat kabarmu semakin jarang kudapati. 
Hey … Kau benar-benar menjadi manusia yang tak kukenali. Kemana dirimu yang biasa? Yang penuh cinta, canda dan tawa? 
Hingga akhirnya … aku mengerti dan paham. Ketika hari itu, kau dengan cepat melepaskan genggaman tanganmu dan berlari mengejar wanita itu.  Tanpa ragu, kau memeluknya erat dibawah derasnya hujan.

Kau mengatakan bahwa kau mencintainya  begitu dalam. Bahwa seluruh perasaanmu telah teralihkan. Bahwa dia adalah satu-satunya alasan.


Lalu, apa arti kembalimu malam itu? Apa arti dari janji yang kau ikrarkan kala itu? Apakah perpisahan kita sebelumnya, berhasil menghapus seluruh perasaan cintamu padaku? Apakah semudah itu kau membuangku?

Kau menatapnya lekat. Meyakinkannya sedemikian kuat. Mengatakan bahwa aku bukanlah siapa-siapa dan tidak ada hal terjadi yang istimewa. Kau memeluknya kembali seakan memberitahuku bahwa dialah segalanya. 

Mengapa kau tega menyakitiku dengan begitu kejam dan tanpa perasaan?  Mengapa malam itu kau berusaha kembali jika telah memiliki pengganti? 
Kau patahkan rasaku yang luar biasa. Kau hancurkan cinta yang selama ini selalu tertuju pada orang yang sama. Kau melukaiku seutuhnya, hingga titik tak berdaya. Lewat hujan aku tersenyum menatapmu. Menatap kepergianmu yang kian jauh bersama wanitamu. Kau memilihnya, dan aku hanya bisa tertawa.

Dan kini, lewat hujan pula aku masih mengenangmu. Kau tahu? Rasa sakit ini tak kunjung reda. Padahal, ini sudah hujan kesekian kalinya yang turun setelah peristiwa itu. Hujan yang kesekian kalinya yang turun setelah kau memutuskan pergi bersama wanitamu. Dan aku masih saja merasa pilu … 

CoretanPena

Kisah Yang Tak Pernah Ada

“Kisah Yang Tak Pernah Ada”

BY : DANDELIONRAN

Kamu itu seperti bintang, terlihat indah namun sampai kapanpun takkan pernah terjamah.

Kamu, manusia yang selalu ada, pada akhirnya menjadi orang yang pergi di list paling pertama.

Jika bisa, aku ingin menjabarkannya. Tentang kamu yang begitu berbeda. Tentang gerak-gerikmu yang selalu menimbulkan tanya. Aku ingin menuliskannya, tentang kisah kita yang tak pernah ada dan kepergianmu yang menimbulkan luka.

Tapi, aku bingung harus memulainya darimana. Dari perkenalan kita yang tidak di sengaja? Atau dari kata “Hai” yang kau ucapkan di kursi tunggu waktu itu?

Satu tahun berlalu begitu saja. Hadirnya kamu, sedikit banyak memberikan warna yang berbeda dalam panggung drama hidupku. Ada selipan tawa, senyum bahagia, kesal tiada tara, dan masih banyak rasa yang lainnya.

Sampai pada akhirnya, aku berada di bab yang paling tidak kumengerti.

Malam itu, Aku tidak mengerti ketika kita membahas tentang gadis yang kamu suka. Bukannya aku suudzan, aku hanya merasa bahwa gadis itu seperti diriku. Bagaimana tidak? Kamu bercerita bahwa gadis itu selalu datang 5 menit sebelum mata kuliah pertama di mulai. Dan aku sudah melakukan hal itu sejak kali pertama menginjakan kaki di kampus.

Lalu, kamu mengatakan bahwa gadis itu berbeda. Dia tidak suka dengan hal-hal yang rumit dan selalu dibuat gampang oleh versi dan caranya sendiri. Itu adalah kebiasaanku yang sudah sangat kau hafal mengingat aku sering mengatakan hal itu di depanmu.

Dan yang terakhir, kau mengatakan jika gadis itu satu kelas denganmu. Jadi, masih bolehkah aku berpikir bahwa dia adalah diriku?

Tidak. Aku bercanda. Tenang saja, karena aku tahu dia bukan aku. Right?

Aku hanya merasa terusik dengan semua keterangan itu. Tidak bermaksud membuat kesimpulan sendiri.

Aku masih ingat beberapa tingkah lakumu yang menurutku aneh. Bagaimana tidak? Kamu mengirimiku pesan singkat hanya untuk meminjam pulpen, tipe-x, pinsil, penghapus, padahal jarak antara tempat dudukmu denganku hanya terpaut oleh satu orang saja. Dan yang lebih anehnya lagi adalah … setiap barang yang kamu pinjam tidak pernah kau pakai. Jadi, untuk apa?

Atau lagi … kau sering mengirimiku pesan hanya sekedar mengatakan “jangan terlalu fokus liatin dosennya.”

Hei dude, apa kau memperhatikanku selama mata kuliah berlangsung? Aku tersenyum kala itu karena oh ayolah dirinya tidak mungkin mengatakan hal tersebut jika ucapanku tidak benar, bukan?

Dan yang terakhir yang paling ku ingat adalah … ketika aku berjalan melewatimu lalu kemudian dengan seenaknya kamu menarik tasku dari belakang, membuat kita berjalan berdampingan. Bukan sekali, tapi berkali-kali hingga semua teman beranggapan kita ini pacaran. Aku tahu, kamu tidak pernah melakukan hal itu kepada teman yang lain. Jadi, apa artinya itu? Dan setelah semua itu, aku merasa masih berada di bab yang tidak kumengerti.

Hingga pada akhirnya aku smpai di bab penutup. Kamu dengan bahagianya mengatakan bahwa “LDR itu seru juga ya. Nahan rasa kangen. Ah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya.

Aku tersenyum dan memberi opini persetujuan. Ternyata kamu sudah memiliki kekasih yang tak pernah ku tahu tepatnya kapan. Mungkin baru-baru ini. Karena yang ku tahu kamu sempat single. Itupun karena kamu yang mengatakannya sendiri.

Tapi, rasanya seperti ada yang salah. Aku tidak suka. Tidak suka kamu punya pacar? Tidak suka kamu menyukai orang lain? Ku akui keduanya! Tapi aku sendiri tidak pernah berharap kamu memacari dan menyukaiku. Sungguh, tidak pernah! Aneh, bukan?

Tapi wait, kamu bilang LDR, kan? Jadi, maksud dari semua perkatanmu malam itu apa? Apa kamu hanya sedang bermain-main waktu itu agar membuatku menerka? Aku masih ingat betul saat kamu mengatakan bahwa gadis yang kau sukai adalah teman sekelas. Dan LDR tidak mungkin sekelas, bukan?

Lalu apa?

Tapi aku tidak ingin terlalu memikirnya. Biarlah itu menjadi urusan dan rahasiamu. Aku hanya teman biasa, jangan lupakan itu.

Kamu menjauh dan aku mulai merasa kehilangan. Pesan singkatku pun hanya kau balas dengan kata-kata pendek. Aku jadi merasa kesal. Tapi cukup tahu diri mengenai statusku yang bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa.

Dan aku baru sadar bahwa kita tidak pernah memulai apapun, tapi mengapa ketika kamu pergi, aku malah menangisinya? Seolah sebelumnya kita pernah membuat cerita bersama.
Dan saat kamu kembali aku merasa begitu senang, seperti bahagianya seseorang yang telah lama rindukan kekasihnya. Padahal, kamu kembali bukan untuk memulai atau melanjutkan. Hanya sebatas seseorang yang kembali atas dasar pertemanan.

Kamu tidak pernah mengatakan suka atau yang lainnya. Kamu selalu menganggapku teman biasa. Bukannya aku kecewa, tapi tidak pernah ada teman biasa yang possesivenya di atas rata-rata. Tidak pernah ada teman biasa yang khawatir melebihi orang jatuh cinta. Dan tidak pernah ada teman biasa yang marah lama-lama hanya karena dekat dengan teman lelakinya. Apalagi tidak ada alasan yang jelas dibaliknya.

Kita sama-sama tahu apa definisi teman itu. Dan teman biasa kutahu tidak akan melakukan hal-hal yang berlebihan itu.

Jadi … apa di sini hanya aku yang merasakannya? Jatuh cinta? Apa kamu tidak?

Dan maaf jika aku lancang. Jatuh cinta padamu yang baru saja memiliki cinta yang baru.

Dariku, untukmu yang pernah ada.